Jumat, 22-06-2018,  

Home   Agenda  Download  Foto  Video  Peta Situs  Situs Terkait  Saran  Kontak


Dengan Semangat Kebersamaan, Kita Bangun Banua Sanggam Menjadi Lebih Maju dan Mandiri
 
0 1


Foto Kegiatan


Bank Data


Agenda Kegiatan


Top Download

Berita dan Kegiatan


Balangan Aman Difteri, Namun Perlu Tetap Waspada

Paringin - Meskipun 20 Provinsi dikabarkan terjadi wabah difteri, Balangan masih relatif aman. Sampai saat ini belum ada laporan kasus difteri yang terjadi.

“Dikatakan relatif aman, karena sampai sekarang ini memang belum ada laporan kejadian di tempat kita. Namun, apabila tidak diwaspadai semua bisa saja berubah. Penyakit ini sangat mudah menular,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, H. Akhmad Nasa’i, saat ditemui di ruang kerjanya.

Diungkapkannya, penyakit yang disebabkan oleh corinebacterium Diphtheriae ini memang mudah menular, terutama melalui percikan ludah, bersin atau batuk orang yang terinfeksi.

“Jadi kita wajib mewaspadainya, apabila disekitar kita ada terkena difteri, maka ini seperti fenomena gunung es, diluar hanya 1 atau 2, dibelakangnya bisa lebih banyak yang terjangkiti,” ujarnya.

Nasa’i menjelaskan, faktor utama yang menyebabkan munculnya kembali penyakit ini, diantaranya karena faktor menurunnya imunitas atau daya tangkis, berupa kekebalan terhadap penyakit yang tidak lagi mencukupi, karena program imunisasi yang tidak lengkap didapatkan oleh masyarakat. Padahal Pemerintah Indonesia telah berhasil mengeleminasi penyakit difteri pada tahun 1990an, dimana program imunisasi ramai digalakkan pemerintah, termasuk Imunisasi difteri yang diberikan pada bayi baru lahir.

“Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dan adanya gerakan antivaksin, ikut menjadi penyebab timbulnya kembali penyakit ini,” ujarnya.

Peran imunisasi dalam mencegah kejadian difteri memang sangat besar. Difteri bisa efektif dicegah dengan vaksin, apabila capaian imunisasi mencakup 95% dari yang ditargetkan. Ketika capaian imunisasi mencapai 95%, maka akan terbentuk kekebalan komunitas, dimana bakteri tidak bisa berkembang. Secara otomatis, 5% yang tidak divaksin akan terlindungi dari 95% penduduk yang imun atau kebal terhadap difteri.

“Sebaliknya, saat cakupan imunisasi dari kekebalan kelompok menurun, disitulah bakteri penyebab penyakit difteri bisa menyerang, termasuk orang-orang yang sudah diimunisasi,” pungkasnya.

Data yang didapatkan dari website resmi Kementerian Kesehatan RI, diketahui bahwa dari 593 kasus difteri yang terjadi pada tahun 2017, sebanyak 66% diantaranya tidak divaksinasi, 31% lainnya terkena difteri karena imunisasi tidak lengkap.

Menanggapi berkembangnya kasus difteri di Indonesia, pemerintah menyelenggarakan program imunisasi tanggap KLB (Outbreak Response Immunization / ORI) pada 11 Desember 2017 pada 3 Provinsi terpilih, yaitu Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Hajjah Siti Raudah, menerangkan bahwa 3 provinsi ini dipilih, mengingat potensi transmisi penyakit sangat tinggi, dan didorong oleh padatnya jumlah penduduk, serta tingginya mobilisasi di 3 Provinsi tersebut.

“Untuk Kabupaten Balangan sendiri, alhamdulillah kita tidak ada masalah yang berhubungan dengan kasus difteri ini, hanya perlu kewaspadaan saja,” ujarnya.

Ditambahkannya, penyakit difteri adalah penyakit infeksi akut yang terjadi pada saluran pernafasan bagian atas, dan biasanya penyakit ini banyak menginfeksi anak-anak, terutama yang masih berusia di bawah 15 tahun.

“Bagian tubuh yang diserang oleh penyakit ini adalah tonsil atau amandel, Faring atau tekak, dan laring atau tenggorokan yang merupakan saluran pernapasan bagian atas. Dan gejala difteri mulai terlihat dalam 1-4 hari setelah seorang anak terinfeksi bakteri difteri.” urainya.

Dijelaskan Raudah, tanda pertama yang muncul adalah sakit tenggorokan dan demam, serta gejala yang menyerupai pilek biasa. Nyeri menelan, batuk yang keras, suara parau, terdapat mual, muntah. Pada pemeriksaan akan terjadi peningkatan denyut jantung, pada kerongkongan akan terbentuk selaput atau membran yang tebal berbintik warna hijau kecoklatan atau keabu-abuan. Dengan kondisi ini si anak akan semakin sulit menelan dan semakin terasa sakit.

"Jika bertambah parah, tenggorokan menjadi bengkak, sehingga menyebabkan sesak napas, bahkan sampai menutup jalan pernapasan. Keadaan selanjutnya, lapisan pembungkus jantung mengalami peradangan, sehingga anak berpotensi meninggal dunia secara mendadak", ujarnya.

Tentang penatalaksanaan, Hj. Raudah menyatakan, bahwa penyakit ini sangat menular, sehingga tidak bisa dirawat sendiri dirumah.

"Harus diisolasi. Oleh karena itu, bila anak sudah positif terkena difteri, secepatnya ia harus di rawat dirumah sakit, dan jangan sampai terlambat, agar kondisi tidak semakin parah", katanya mengakhiri wawancara.

Yuspiteriandi, Wasor Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, turut menyanyangkan tentang adanya kasus difteri ini. Dalam pandangannya, perlu pengkajian mendalam tentang status Imunisasi penderita, karena sebenarnya penyakit ini dapat di cegah dengan imunisasi DPTHB-Hib.

"Imunisasi DPTHB-Hib diberikan untuk mencegah 5 penyakit sekaligus, yaitu difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Haemophilus influenza. Imunisasi ini diberikan pertama kali saat anak berumur lebih dari 2 Bulan, kemudian 3 dan 4 bulan. Ulangan DPTHB-Hib diberikan pada umur 18 bulan, imunisasi akan diberikan lagi dalam program BIAS SD kelas 1,2 dan 5", tuturnya.

Selanjutnya, ia juga menghimbau agar kejadian difteri tidak terjadi di Kabupaten Balangan. Seyogyanyalah orang tua selalu membawa anaknya ke posyandu atau puskesmas, karena ditempat itulah anak mendapatkan imunisasi, sebuah tindakan yang dapat mencegah banyak penyakit. Serta menjaga kebersihan, baik secara pribadi maupun lingkungan. 

“Sebab, penyakit menular seperti difteri ini paling mudah menyebar dan menular di lingkungan yang buruk serta tingkat sanitasi yang buruk,” pungkasnya. (Rie / tim kominfo)


  Hits (143)    Waktu :14-12-2017 (04:09:29)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal