Minggu, 20-08-2017,  

Home   Agenda  Download  Foto  Video  Peta Situs  Situs Terkait  Saran  Kontak


Dengan Semangat Kebersamaan, Kita Bangun Banua Sanggam Menjadi Lebih Maju dan Mandiri
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Agenda Kegiatan


Top Download

Berita dan Kegiatan


Parang Bungkul Identitas Orang Banua

Jika selama ini senjata tradisional (pusaka) Kalimantan Selatan yang lebih dikenalkan ke luar daerah adalah keris, namun ternyata, di tengah masyarakat Banua senjata pisau berkelok ini kurang familiar. Bahkan, secara turun temurun, warga etnis Banjar secara umum dan masyarakat Hulu Sungai (Banua Anam) maupun dayak khususnya, lebih dekat dengan jenis Parang, sebagai senjata pelengkap diri maupun sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis parang Banjar sendiri beragam mulai dari parang Bungkul, Lais, Lantik dan parang Pacat Bagantung (lintah bergantung) hingga Mandau jenis parang pada komunitas masyarakat Dayak. Diantara jenis parang tersebut, Parang Bungkullah yang paling populer dan familiar di tengah masyarakat Banua. Senjata tajam berbentuk pipih panjang, bermata satu ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sejarah orang Banjar. Bahkan digambarkan, jika Parang bungkul selalu tersangkut di pinggang dan tidak akan keluar dari sarungnya jika bukan untuk menegakkan kehormatan, kebenaran, dan keadilan.

Menurut salah satu pengrajin senjata tajam (tukang titik), Arbani (36 tahun), parang bungkul ini biasanya digunakan warga untuk menebang pohon bambu karena lebih praktis, sebab bentuk dan ukuran mendukung.

"Parang Bungkul ini pendek dan berat diujung, jadi mudah digunakan saat menebang bambu atau kayu ukuran kecil," beber Arbani, yang tiap hari melayani masyarakat dalam membuat parang atau sekedar mempertajamnya, di desa Lampihong Kiri Kecamatan Lampihong.

Meski kebanyakan digunakan untuk bekerja, lanjut dia, sebetulnya parang Bungkul juga sering digunakan hanya untuk keperluan tertentu atau istilahnya Parang Gantungan. Parang Gantungan, menurut dia, adalah parang yang tidak digunakan untuk pekerjaan sehari-hari, melainkan hanya untuk keperluan tertentu.

"Parang Gantungan ini biasanya digunakan hanya saat genting, seperti berkelahi atau memotong hewan kurban," bebernya.

Khusus untuk parang gantungan, menurut dia, parang Bungkul bentuknya lebih panjang dan sarung serta gagangnya dibuat lebih bagus.

Senada dengan hal tersebut, Menurut Rawiansyah (62 tahun), salah satu penyuka wasi (istilah untuk senjata tajam dari besi) ini mengungkapkan, tradisi menggaduh wasi masih sangat banyak dilakukan masyarakat. Bahkan hingga kini, masih banyak orang Banjar kemana-mana harus membawa wasi seperti lading (sejenis pisau) dipinggang.

Budaya wasi ini, menurut warga Lampihong ini, juga erat kaitannya dengan mistik atau pusaka, dimana masyarakat masih percaya akan adanya tuah dan kesaktian yang diberikan yang Maha Kuasa dengan perantara wasi tersebut.

"Kalau dijadikan pusaka, Wasi ini lebih karena faktor mistisnya. Karena wasi ditengah masyarakat kita lebih diutamakan untuk pusaka ketimbang fungsi lainnya," jelasnya.


  Hits (543)    Waktu :13-12-2016 (20:59:39)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal