Minggu, 20-08-2017,  

Home   Agenda  Download  Foto  Video  Peta Situs  Situs Terkait  Saran  Kontak


Dengan Semangat Kebersamaan, Kita Bangun Banua Sanggam Menjadi Lebih Maju dan Mandiri
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Agenda Kegiatan


Top Download

Berita dan Kegiatan


Manggaduh Wasi, Mulai Wirid Hingga Jeruk Nipis

Jika seseorang menjalankan tradisi menggaduh Wasi, maka dirinya dituntut harus bisa Maharagu / Mambarasihi (memelihara) wasi tersebut. Sebab tradisi menggaduh Wasi tidak terlepas dari bagaimana cara seseorang memperlakukan Wasi tersebut sesuai tradisi yang ada. Perlakukan dalam maharagu Wasi ini ternyata berbeda antara jenis Wasi yang satu dengan jenis lainnya. Bahkan, untuk jenis Wasi tertentu ada sesuatu hal khusus yang harus dilakukan dan dilaksanakan secara rutin.

Menurut Abas Basirin (47 tahun), salah seorang pecinta wasi, mengatakan bahwa tatacara mambarasihi wasi ini tergantung jenis wasinya. Namun biasanya harus dibedakan apakah termasuk wasi tanding (untuk berperang) atau Wasi Pingkutan (Pegangan).

"Kalau Wasi Tanding, sebelum dimandikan terlebih dahulu kita sediakan kopi hitam, manyan putih dan darah ayam," ungkapnya.

Ketiga jenis sesaji tersebut, kata dia, diletakkan pada satu tempat dengan Wasi yang akan dibersihkan selama sehari semalam sebelum dilakukan mamandikan (membersihkan) Wasi tersebut secara fisik. Lebih rinci, Abas mengungkapkan, penggunaan ketiga benda ini adalah sebagai sarana untuk mengetahui ada tidaknya nilai magis atau tuah (apuah) yang berkaitan erat dengan ada atau tidaknya “si penunggu” / khadam di Wasi tersebut.

"Untuk mengetahui atau memanggil khadam diperlukan wirid khusus sebagai sarana agar bisa berkomunikasi dengan Wasi ini," jelasnya.

Perbedaan perlakukan antara wasi tanding dan pingkutan hanya terletak pada jenis sesaji. Kalau wasi pingkutan menggunakan lakatan hirang (ketan hitam) sebagai pengganti darah ayam.

"Untuk tata cara mamandikan Wasi ini biasanya menggunakan air, kembang 7 jenis, limau nipis dan buah kalarang. Ini biasanya berlaku untuk semua jenis Wasi, tapi ada juga jenis Wasi tertentu yang menggunakan," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, seorang penyuka wasi lainnya, Hadi Fauzi AS (72tahun) mengungkapkan, untuk proses mamandikan Wasi tidak bisa sembarangan, melainkan ada tatacara yang harus dilakukan. Tatacara tersebut, ucap pria paru baya ini, dimulai dengan menyediakan peralatan seperti dua buah baskom berisi air, sabun, limau nipis dan handuk.

"Memandikannya pun dimulai dari bawah keatas begitu pula saat menggosok menggunakan sabun maupun limau nipis," bebernya.

Limau nipis yang digunakanpun, lanjut mantan Kepala Desa Putat Basiun Kecamatan Awayan ini, ialah limau nipis tua berwarna kuning. Selain itu, lanjut Kai Ipul begitu beliau dikenal, setelah dimandikan lalu dikeringkan dengan handuk bersih, dan setelahnya baru dijemur di terik matahari.

"Kalau salah tatacara memandikannya, maka secara fisik Wasi akan berubah warna dan secara tuah bisa hilang," bebernya.

Apakah wasi sebagai benda pusaka boleh dijualbelikan? Menurut Hadi Fauzi tidak ada larangan menjual belikan Wasi. Tapi menurut dia, ada catatan bagi pemilik baru Wasi, yakni harus tahu bagaimana memperlakukan dan memelihara Wasi yang dia beli.

"Biasanya kalau Wasi cocok dengan pemiliknya, akan ada sebuah chemistry yang terjalin antara keduanya. Kalau sudah begitu berapa pun harganya pasti tidak akan dijual oleh pemiliknya," ucap pria yang mengaku pernah berguru secara khusus terkait tradisi manggaduh wasi ini.

Tradisi manggaduh Wasi memang menjadi budaya orang Banua. Namun dalam menjalaninya, masyarakat harus tetap bijak dengan memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku. Sebab Wasi yang biasanya erat kaitannya dengan tuah dan memiliki kekuatan mistis dan juga bisa penanda status sosial ini masih digolongan Senjata Tajam (Sajam) dimata Hukum. Menurut Kapolres Balangan, AKBP. Moh. Zamroni, keberadaan Wasi sebagai benda pusaka di kalangan masyarakat memang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosial.

"Tapi pengunaannya harus bijak, karena tidak adanya aturan yang membolehkan masyarakat secara bebas membawa senjata tajam, termasuk yang dianggap benda pusaka sekalipun," bebernya.

Selain itu, lanjut Kapolres, pihak Polres tidak memiliki wewenang terkait surat izin kepemilikan Senjata Tajam, baik itu jenis biasa maupun yang diangap pusaka. Sedangkan khusus untuk sajam jenis sangkur untuk petugas keamanan, menurut dia, itu merupakan wewenang Polda Kalsel. Itupun harus petugas keamanan yang resmi dan sesuai data yang dikirim Polres setempat, sesuai dominisili pekerjaan para petugas keamanan tersebut.

"Kalau hanya izin angkut atau pemindahan, kita di Polres bisa. Tapi itupun dengan kegiatan yang jelas, misalnya untuk gelar budaya atau pameran," ucapnya.

Proses pemindahan itu sendiri, lanjut dia, benda pusaka bentuk sajam harus tertutup dan dibungkus dengan rapi. Selanjutnya dirinya mengingatkan, agar setiap masyarakat khususnya penyuka Wasi, agar tidak membawa Wasi kemana-mana, karena ini sudah melanggar undang-undang, khususnya UU no 12/DRT/1951 tentang kepemilikan senjata tajam.

"Kalau memang dianggap benda Pusaka taruh dirumah saja, jangan dibawa kemana-mana. Karena itu sudah melanggar aturan dan kami pihak kepolisian akan tindak tegas sesuai aturan yang ada," tegasnya.


  Hits (325)    Waktu :13-12-2016 (20:56:05)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal